Jum'at Mubarak

Friday, March 21, 2014



Dini hari tadi, aku beberapa kali terjaga. Tidurku tak nyenyak seperti biasa. Mimpi yang hadir pun berganti dan putus-nyambung, seolah tak rela aku menikmati indahnya dalam sekali tidur.

Tapi hei, aku tersenyum. Kau muncul dalam episode mimpiku. Terlontar satu atau dua cerita dari kita, seperti biasa. Aku jadi menyadari bahwa sudah lama kita tak bertegur sapa, terpisah oleh jarak dan kesibukan yang berbeda. Kau masih ingat kan kalau itu dulu moment kita?

Entah teori dari mana, aku punya keyakinan bahwa yang kita impikan adalah sesuatu yang benar-benar kita inginkan atau justru sesuatu yang benar-benar kita takutkan. Saking ingin atau takutnya, sampai-sampai lisan tak sanggup mengucapkannya. Alhasil, alam bawah sadar yang menyimpannya. Rapi.

(Mungkin) Aku begitu ingin kita kembali seperti biasa. Berinteraksi dengan biasa. Bercanda dan tertawa bahagia. Bertukar cerita di sana. 
Atau bisa jadi, mimpi ini isyarat kau di sana mengirim rindu. Ah, mungkinkah?

Apapun itu, semoga Jum'at mubarak ini milik kita :)


Malang. Sebelum fajar menjelang.

Mas-mas Cerdas

Monday, March 10, 2014

Suatu pagi, saya sedang memfotokopi berkas AD-ART LKM UB untuk keperluan sidang Kongres Mahasiswa. Saya sudah cukup kenal dengan laki-laki petugas fotokopi ini, sebut saja mas-mas. Usianya kira-kira 5 tahun di atas saya, pokoknya lebih tua. Orangnya memang komunikatif, sering mengajak pelanggannya mengobrol sambil melayani fotokopi. Pagi itu kami ngobrol singkat tentang pemilihan Rektor UB 2014-2018, permasalahan di UB, akreditasi UB yang anjlok dari A ke B, dan akhirnya tentang jumlah mahasiswa UB yang terlalu banyak (yang juga menjadi salah satu faktor turunnya akreditasi).


Sambil fotokopi membolak-balik AD-ART.....

Mas-mas : UB, satu universitas, ada berapa mahasiswanya?

Saya : Hmm, kalo digabung 4 angkatan aktif sih sekitar 50.000-an

Mas-mas : Nah. Dalam satu tahun ada berapa yang lulus?

Saya : Setahun biasanya bisa sampai 4x wisuda, tiap wisuda itu 1.000 mahasiswa. Yah berarti anggep aja 5.000 yang lulus tiap tahun.

Mas-mas : Oke. Trus apa semua lulusan itu udah langsung dapat pekerjaan? Enggak kan?

Saya : *diam*

Mas-mas : Gitu tuh sarjana, malah nyusahin negara. Jumlah pengangguran makin banyak aja. Belum lagi kalo dihitung lulusan universitas se-Indonesia.

Saya : *hening*

Mas-mas : Susahnya, pola pikir sarjana jaman sekarang tuh pengen dapet kerja, bukan pengen memberi lapangan pekerjaan. Coba deh misalnya dari 5.000 lulusan UB tadi bikin lapangan kerja, trus mempekerjakan teman atau saudaranya, minimal satu orang aja. Itu udah bisa mengurangi 5.000 pengangguran.

Saya : Iya, .... *belum selesai ngomong tapi terus dipotong*

Mas-mas : Sekarang kita lihat di Malang aja. Tebak, ada berapa kampus di Malang?

Saya : Nggg.... *sok berpikir mau nebak*

Mas-mas : Di Malang ada 67 kampus

Saya : *hening* *meskipun nggak yakin, tapi saya nggak mempertanyakan kevalidan atau sumber datanya* *tapi mungkin bisa saja kalau 67 itu jumlah gabungan di kota dan kabupaten, termasuk kampus kecil*

Mas-mas : Di setiap kampus ada berapa fakultas? Yah kita anggep aja ada 5 fakultas lah ya.

Saya : *mengangguk*

Mas-mas : Di setiap fakultas ada berapa jurusan? Nggak usah banyak-banyak kaya di UB, anggep aja cuma ada 2.

Saya : *baiklah*

Mas-mas : Di setiap jurusan ada berapa mahasiswanya? Anggep aja 100 mahasiswa per angkatan. Berarti ada 400 mahasiswa per jurusan, 800 mahasiswa per fakultas, 4000 mahasiswa per kampus.

Saya : Hitungannya betul. Oke. *mengangguk*

Mas-mas : Trus anggep aja dalam setahun yang lulus cuma 300 mahasiswa dari tiap kampus. Kalo dikalikan 67 kampus, jadi berapa?

Saya : *sigh* *males ngitung, pokoknya jumlahnya ribuan*

Mas-mas : Banyak kan? Padahal itu cuma di Malang lho. Gimana kalo se-Indonesia dan ternyata semua sarjana itu berpikirnya mencari kerja? Pemerintah nggak bisa nyediain lapangan kerja sebanyak itu.

Saya : Iya... iya.... *sambil membayar dan merapikan hasil fotokopian*

Obrolan pun selesai seiring proses fotokopi selesai. Saya bersyukur sekali pagi itu mendapat “tamparan” dari mas-mas cerdas.


Duhai kita para calon sarjana, akankah kelak kita hanya menjadi beban negara?



Malang, 6 Maret 2014     18:50


Masih Ada

Wednesday, March 5, 2014

"Segala kebaikan yang kau beri kelak kembali padamu, bahkan dalam bentuk yang tak pernah kau sangka"
(Annisa Sekar Kasih, 2014)


Saya percaya masih banyak orang baik di dunia ini. Meskipun saya belum tau berapa jumlah pastinya, tapi saya berani jamin mereka ada. Sayangnya, kontras cerah cahaya mereka kalah oleh semarak berita perampokan uang ATM, pembunuhan selingkuhan pasangan, pencitraan calon presiden, penipuan SK PNS, pemerkosaan siswa SD, korupsi elite negeri, dinasti politik, video porno siswa SMA, ijazah palsu calon walikota, dan lain-lain kasus apalah namanya. Sering saya mendengar pesimisme, "Jaman sekarang susah cari orang baik". Ah iya, mungkin saja. Itu karena sudah terlalu banyak yang menggunakan modus kebaikan untuk melakukan kejahatan. Alhasil, yang benar-benar baik justru dicurigai dan yang pura-pura baik justru diayomi.

Sudah banyak kisah orang baik yang membuat kita terinspirasi. Orang yang rutin menyapukan jalanan depan rumah sekaligus depan rumah tetangga, akhirnya sering sekali diberi oleh-oleh setiap sang tetangga habis bepergian. Loper koran yang rajin dan JUJUR akhirnya memenangkan kuis hadiah 1 milyar. Mendo'akan orang lain yang bersin ketika di angkutan umum, akhirnya berjodoh. Petugas sapu sekolah menemukan arloji super mahal yang hilang sudah seminggu milik salah seorang guru lalu mengembalikannya (sebetulnya bisa saja dia menjualnya, anggap anaknya sedang butuh biaya sekolah), ternyata diberi imbalan melebihi perkiraan dan harapan. Memberi kursi duduk kepada wanita lansia di antara padatnya penumpang bus kota ternyata berbuah beasiswa (wanita lansia tersebut merupakan ibu dari salah seorang interviewer beasiswa). Banyak sekali, sampai-sampai satu kisah pun bisa kita dengar berkali-kali.

Maka, yakinlah masih ada orang-orang baik di dunia. Namanya memang nggak bermunculan di media, tapi satu tindakan sederhananya bisa menjadi bahan cerita puluhan pembicara dan akhirnya tersebar kemana-mana. Tak jarang, hati manusia-manusia yang sebelumnya arogan pun luluh lantak dibuatnya.

Kalau kau belum menemukan mereka, jadilah "satu" dari mereka.


Salah satu video inspiring tentang menolong yang
membuat saya berdecak kagum :)



Hujan. Amanah.

Thursday, February 27, 2014

Sejatinya, amanah itu....
Bukan karena kamu mampu
Bukan pula karena mereka merasa kamu mampu
Bukan karena kamu tahu kapasitasmu
Bukan pula karena mereka tahu kapasitasmu
Dan jangan sampai pula karena kemauanmu

Amanah itu kehendak Allah
Rencana Allah SWT atas kehidupanmu

Melangkahlah dengan percaya, bahwa bersama-Nya semua akan baik-baik saja


Barusan dapet kiriman itu dari sahabat via grup WhatsApp. Momentnya tepat, bertepatan dengan lengsernya DPM UB 2013 di Kongres Mahasiswa (KM) UB 2013-2014 siang ini. Dimulailah perjalanan saya dan 12 rekan sebagai DPM UB 2014. Amanah yang berat (memang amanah itu nggak ada yang ringan pertanggungjawabannya). Amanah yang sebelum mengembannya bahkan harus mengorbankan sebegitu banyaknya; tenaga, waktu, harta, pikiran, kuliah, bahkan berkompromi dengan teman-teman dan keluarga. Saya bersyukur sekali Allah memudahkan itu semua, menghadirkan orang-orang yang membantu memenangkannya. Untuk saya, untuk kita, dan tentunya untuk kebaikan di Brawijaya.

Saya mencoba mengingat-ingat. Salah satu do'a yang selalu saya panjatkan sehabis shalat adalah, "Ya Allah, berilah selalu saya kesempatan untuk melakukan kebermanfaatan". Mungkin apa yang saya "dapatkan" ini adalah jawaban dari Allah. Ya, semoga. Terlepas dari kebermanfaatan itu sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus memiliki suatu jabatan, tapi saya yakin inilah yang Allah tetapkan untuk saya. Saya percaya saja pada pilihan-Nya. Pastinya ada yang Allah maksudkan dari apa yang Dia berikan.

Semoga diberi pundak yang kuat dan hati yang ikhlas. Bismillah.


*sembari duduk di dekat jendela ruangan kongres Lt.6 Gd. Rektorat, menyaksikan hujan mengguyur kampus. Saksi bisu bahwa tongkat estafet amanah telah digilirkan.



Stabbling You

Friday, January 17, 2014



Sahabat adalah orang yang berani “menusuk” kita dari depan. Dia takkan segan menegur jika kita memang salah. Dia akan berbicara terus terang mengenai kelebihan dan kekurangan diri kita, tanpa takut kelak kita akan membencinya. Dia tak ingin kita terlena atau bahkan tertipu oleh pujian orang. Dia juga tak ingin bila sahabatnya terus-terusan merasa benar dan dibenarkan, padahal sudah jelas yang diperbuatnya adalah sebuah kesalahan. Dia berani mengambil resiko untuk bertindak yang “menyelamatkan” daripada terus-terusan diam padahal “membunuh sahabatnya secara perlahan”.

Satu hal yang membuat sahabat kita tersenyum adalah bisa melihat kita tumbuh menjadi pribadi yang matang dan senantiasa lebih baik dari sebelumnya. Hargailah dia yang berani berterus terang, karena dia berhasil mengalahkan rasa sungkan yang begitu besar demi kebaikan sahabat yang disayanginya.

Sepertinya gw harus “menusuk” kalian nih, hahahaha. Tapi tenaaaang, gw juga bersedia “ditusuk” kok :)